Ampuun !!!
kemana supervisornya?
Mengapa dibiarkan seperti itu?
itu yang ada dalam hati saya ketika melihat para pembersih gedung tinggi dikawasan merdeka barat Jakarta.
Mereka dengan tenangnya membersihkan tulisan gedung di lantai 20 keatas tanpa pengaman sedikitpun.
Memang kita belum sadar dan membudaya pentingnya prosedur keselamatan kerja, kadang rekan2 kita para petualangpun lupa tentang arti "safety first", semuanya dipandang hanya membuat repot pergerakan saja.
Jadi ingatlah kawan, dimanapun kita bertualang jangan lupakan prosedur keamanannya.
Selamat Bertualang!!
Entri Populer
-
Tepat jam 6 pagi di hari minggu disaat orang memulainya dengan berolah raga santai atau menghirup susu coklat kental didepan rumahnya, kami ...
-
Siapa yang tidak mengenal Kafiyeh ini, ia adalah selembar kain scarf tradisional masyarakat palestina, yang pada akhirnya menjadi simbol per...
-
Untuk rekan-rekan petualang sejati yang ingin mengetahui lebih jauh bagaimana bergabung dengan WANADRI silahkan akses alamat ini http://pdw....
-
Tim 7 Summits Indinesia - Wanadri , Mencapai Puncak Aconcagua - Argentina Puente del Inca 2 Jan 2011, 16.23 Sebelumnya pada akhir Desember 2...
-
All petualang mania, yang ingin menguji adrenalinnya, sebentar lagi Wanadri bakal menggelar kembali Pendidikan Dasarnya, setelah terakhir ka...
foto
Cari Blog Ini
Kamis, 10 Desember 2009
SEKOLAH ESAR WANADRI
Sekolah Esar Wanadri 2009Kejadian-kejadian hilangnya para pendaki gunung di Indonesia sudah bukan
hal yang baru lagi bagi wajah salah satu jenis kegiatan alam terbuka yang memang paling banyak penggiatnya di Indonesia ini. Hal ini terjadi kebanyakan akibat kecerobohan-kecerobohan yang dilakukan oleh para penggiatnya (Subjective danger).Terlepas dari sebab-sebab kecelakaan terjadi, ada satu kegiatan yang tidak kalah pentingnya untuk dicermati, yaitu penanggulangan untuk menyelamatkan para pendaki yang mengalami musibah tersebut. Sering kita mendengar terjadinya kegagalan-kegalan dalam operasi SAR yang dilakukan (gagal menyelamatkan survivor dalam keadaan hidup) yang diakibatkan oleh keterlambatan informasi yang diberikan, kacaunya sistem pencarian yang dilakukan, dan kadang keterbatasan SDM (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang terlibat serta keterbatasan peralatan penunjang yang dibutuhkan dalam operasi SAR yang diadakan. Hal-hal tersebut diperparah dengan kurangnya tingkat kesadaran “rasa kemanusiaan’ dan “ego” para penolong .Berita-berita kehilangan yang sering menghiasi koran-koran harian di Indonesia (yang menjadi salah satu media pemberitaan informasi adanya kecelakaan gunung) kerap (sudah) terlambat pemberitaannya. Penanganan operasi SAR pertama kali kadang dilakukan tanpa sistem yang jelas dan terarah, sehingga daerah pencarian yang seharusnya dijaga (untuk keperluan pencarian/jejak-jejak) menjadi kacau. Orang-orang lapangan (SRU) yang terlibat dalam Operasi SAR kadang tidak ditunjang kemampuan yang sesuai untuk kualifikasi seorang SRU. Sehingga operasi yang seharusnya berjalan cepat (mengingat prinsip 3C dalam operasi SAR), menjadi berjalan lambat. Memang dalam suatu operasi SAR tidak dibatasi keinginan seseorang untuk turut membantu dalam pencarian, tetapi harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap orang, agar operasi pencarian tidak diperparah oleh kejadian ‘kecelakaan kedua’ yang terjadi pada regu pencari.Akibat dari beberapa faktor kegagalan operasi SAR yang terjadi mengakibatkan Survivor (bila ditemukan ) sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sehingga operasi SAR yang digelar merupakan upaya untuk mencari mayat, bukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.Untuk menekan kegagalan yang terjadi dalam suatu Operasi SAR, Wanadri melaui Badan Diklat Wanadri berupaya untuk menyediakan tenaga-tenaga yang memiliki kualifikasi untuk seorang SRU operasi SAR Gunung Hutan dengan menggelar Sekolah ESAR. Kurikulum yang digunakan untuk Sekolah ESAR 09 ini mengacu kepada kejadian-kejadian yang sering terjadi di Indonesia.
waktu : senin, 28 December 2009 at 7:00am - , rabu 6 Januari 2010 at 4:30pm
Lokasi : Taman Nasional Gn Gede - Pangrango
pendaftaran : 15 nov s/d 20 des 2009.
Biaya : Rp. 500 rb.
Lokasi pendaftaran: Sekretariat Wanadri Jl. Aceh 155 Bandung (022) 4206440,Jl. Pahlawan 12A, Kalibata, Jakarta (021) 79184012.
sekolah ESAR (explorer Search and Rescue WANADRI
Sekolah Esar Wanadri 2010
Kejadian-kejadian hilangnya para pendaki gunung di Indonesia sudah bukan hal yang baru lagi bagi wajah salah satu jenis kegiatan alam terbuka yang memang paling banyak penggiatnya di Indonesia ini. Hal ini terjadi kebanyakan akibat kecerobohan-kecerobohan yang dilakukan oleh para penggiatnya (Subjective danger).Terlepas dari sebab-sebab kecelakaan terjadi, ada satu kegiatan yang tidak kalah pentingnya untuk dicermati, yaitu penanggulangan untuk menyelamatkan para pendaki yang mengalami musibah tersebut. Sering kita mendengar terjadinya kegagalan-kegalan dalam operasi SAR yang dilakukan (gagal menyelamatkan survivor dalam keadaan hidup) yang diakibatkan oleh keterlambatan informasi yang diberikan, kacaunya sistem pencarian yang dilakukan, dan kadang keterbatasan SDM (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang terlibat serta keterbatasan peralatan penunjang yang dibutuhkan dalam operasi SAR yang diadakan. Hal-hal tersebut diperparah dengan kurangnya tingkat kesadaran “rasa kemanusiaan’ dan “ego” para penolong .Berita-berita kehilangan yang sering menghiasi koran-koran harian di Indonesia (yang menjadi salah satu media pemberitaan informasi adanya kecelakaan gunung) kerap (sudah) terlambat pemberitaannya. Penanganan operasi SAR pertama kali kadang dilakukan tanpa sistem yang jelas dan terarah, sehingga daerah pencarian yang seharusnya dijaga (untuk keperluan pencarian/jejak-jejak) menjadi kacau. Orang-orang lapangan (SRU) yang terlibat dalam Operasi SAR kadang tidak ditunjang kemampuan yang sesuai untuk kualifikasi seorang SRU. Sehingga operasi yang seharusnya berjalan cepat (mengingat prinsip 3C dalam operasi SAR), menjadi berjalan lambat. Memang dalam suatu operasi SAR tidak dibatasi keinginan seseorang untuk turut membantu dalam pencarian, tetapi harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap orang, agar operasi pencarian tidak diperparah oleh kejadian ‘kecelakaan kedua’ yang terjadi pada regu pencari.Akibat dari beberapa faktor kegagalan operasi SAR yang terjadi mengakibatkan Survivor (bila ditemukan ) sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sehingga operasi SAR yang digelar merupakan upaya untuk mencari mayat, bukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.Untuk menekan kegagalan yang terjadi dalam suatu Operasi SAR, Wanadri melaui Badan Diklat Wanadri berupaya untuk menyediakan tenaga-tenaga yang memiliki kualifikasi untuk seorang SRU operasi SAR Gunung Hutan dengan menggelar Sekolah ESAR. Kurikulum yang digunakan untuk Sekolah ESAR 10 ini mengacu kepada kejadian-kejadian yang sering terjadi di Indonesia.INFORMASI: Sekretariat Wanadri Jl. Aceh 155 Bandung (022) 4206440,Jl. Pahlawan 12A, Kalibata, Jakarta (021) 79184012.
Kejadian-kejadian hilangnya para pendaki gunung di Indonesia sudah bukan hal yang baru lagi bagi wajah salah satu jenis kegiatan alam terbuka yang memang paling banyak penggiatnya di Indonesia ini. Hal ini terjadi kebanyakan akibat kecerobohan-kecerobohan yang dilakukan oleh para penggiatnya (Subjective danger).Terlepas dari sebab-sebab kecelakaan terjadi, ada satu kegiatan yang tidak kalah pentingnya untuk dicermati, yaitu penanggulangan untuk menyelamatkan para pendaki yang mengalami musibah tersebut. Sering kita mendengar terjadinya kegagalan-kegalan dalam operasi SAR yang dilakukan (gagal menyelamatkan survivor dalam keadaan hidup) yang diakibatkan oleh keterlambatan informasi yang diberikan, kacaunya sistem pencarian yang dilakukan, dan kadang keterbatasan SDM (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang terlibat serta keterbatasan peralatan penunjang yang dibutuhkan dalam operasi SAR yang diadakan. Hal-hal tersebut diperparah dengan kurangnya tingkat kesadaran “rasa kemanusiaan’ dan “ego” para penolong .Berita-berita kehilangan yang sering menghiasi koran-koran harian di Indonesia (yang menjadi salah satu media pemberitaan informasi adanya kecelakaan gunung) kerap (sudah) terlambat pemberitaannya. Penanganan operasi SAR pertama kali kadang dilakukan tanpa sistem yang jelas dan terarah, sehingga daerah pencarian yang seharusnya dijaga (untuk keperluan pencarian/jejak-jejak) menjadi kacau. Orang-orang lapangan (SRU) yang terlibat dalam Operasi SAR kadang tidak ditunjang kemampuan yang sesuai untuk kualifikasi seorang SRU. Sehingga operasi yang seharusnya berjalan cepat (mengingat prinsip 3C dalam operasi SAR), menjadi berjalan lambat. Memang dalam suatu operasi SAR tidak dibatasi keinginan seseorang untuk turut membantu dalam pencarian, tetapi harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap orang, agar operasi pencarian tidak diperparah oleh kejadian ‘kecelakaan kedua’ yang terjadi pada regu pencari.Akibat dari beberapa faktor kegagalan operasi SAR yang terjadi mengakibatkan Survivor (bila ditemukan ) sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sehingga operasi SAR yang digelar merupakan upaya untuk mencari mayat, bukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.Untuk menekan kegagalan yang terjadi dalam suatu Operasi SAR, Wanadri melaui Badan Diklat Wanadri berupaya untuk menyediakan tenaga-tenaga yang memiliki kualifikasi untuk seorang SRU operasi SAR Gunung Hutan dengan menggelar Sekolah ESAR. Kurikulum yang digunakan untuk Sekolah ESAR 10 ini mengacu kepada kejadian-kejadian yang sering terjadi di Indonesia.INFORMASI: Sekretariat Wanadri Jl. Aceh 155 Bandung (022) 4206440,Jl. Pahlawan 12A, Kalibata, Jakarta (021) 79184012.
Kamis, 26 November 2009
Petualangan si Calon Haji

Kebetulan bulan ini keluarga, rekan, orang tua, tetangga kita atau siapapun banyak yang melakukan perjalanan Haji, saya jadi membayangkan bagaimana dulu semasa nenek saya pergi haji di era tahun 1930 an dimana pesawat udara belum menjadi transportasi utama, belum terpikir juga bagaimana mereka mengemas barang-barangnya, saat ini mungkin dengan mudah kita dapatkan tas ransel, tali plastik, tas plastik dsb.
Denger-denger pada masa itu perjalanan haji dari Indonesia selama 3 bulan karena menggunakan kapal laut. Sampai saat inipun saya masih melihat banyak orang-orang dari negara lain yang melakukan perjalanan darat menggunakan mobil atau truk, kebetulan bila negaranya tidak terpisah oleh laut hal itu sangat memungkinkan, waktu itu sempat saya melihat orang-orang dari Kirgistan mereka menggunakan truk-truk selama 21 hari, sungguh petualangan yang sangat mengasyikkan melewati beerbagai negara, melewati berbagai medan mulai dari perkotaan, desa2 melalui jalan mulus sampai off road, mulai dari salju hingga gurun pasir, mulai dari cuaca dingin sampai yang extra hot, semua harus mereka hadapi.
Dapat dibayangkan oleh kita bagaimana mereka mempersiapkan perjalanannya, mereka harus memperhitungkan berapa banyak logistik yang harus dibawa belum lagi bagaimana menjaga kendaraannya agar selalu tetap "fit", waktu itu saya melihat satu truk saja membawa beberapa ban cadangan dan tangki2 bahan bakar, dan truk itu bisa disulap sebagai rumah berjalan.
Disini bagi kita seorang petualang bisa menerapkan ilmu yang kita punya yaitu Management Trip atau Manajemen Perjalanan, kita bisa mempersiapkan perjalanan mulai dari menentukan jalur yang akan kita pakai setelah itu kita akan tahu berapa panjang perjalanan kita dan bisa memperkirakan waktu tempuh kita, setelah tahu waktu tempuh kita bisa mempersiapkan logistiknya berapa banyak BBM yang harus kita beli, berapa banyak makanan yang harus kita beli, apa saja perbekalan dan peralatan yang harus kita bawa dsb.
Bukankah sebenarnya setiap perjalanan kemanapun kita harus menggunakan manajemen perjalanan, seperti halnya anda mau berangkat kuliah, pasti anda harus menentukan jam berapa saya harus berangkat, menggunakan apa saya perginya, melewati jalur mana enaknya, membawa apa yang diperlukan untuk kuliah hari itu, kapan saya harus kembali kerumah, membawa bekal apa dsb.
Tanpa disadari sebenarnya kita semua sudah mempraktekan Manajemen Perjalanan, teori pertama yang harus kita kuasai sebelum kita bertualang.
Selamat bertulang !!!
Safety first!!!!
Selasa, 24 November 2009
Selamat Datang Para Petualang

Hari ini hari Selasa, 24 November 2009 adalah hari pertama Blog"Mari Bertulang" di buat, hari dimana langit Jakarta menghitam oleh awan yang sarat dengan air. Dari jendela kantor ini terlihat Tugu Monas yang tadi terlihat terang saat ini sudah muram karena terhalang mendung.
Bulan November dan Desember 2009 ini diperkirakan oleh BMG menjadi bulan-bulan yang sangat "berat" bagi Jakarta karena akan menerima Hujan yang cukup banyak frekwensi dan intensitasnya. Hujan yang biasanya akan membuahkan banjir bagi sebagian besar pelosok Jakarta, apalagi bila dibarengi dengan kiriman air dari hulu Jakarta dan pasang laut di muara Jakarta.
Beberapa minggu ini ruas-ruas jalan di "ring I" sekalipun tidak tahan menerima curahan hujan yang mengakibatkan banjir menggenang dari 10 cm hingga - 50 cm.
Selamat datang para petualang, disaat-saat cuaca yang tidak bersahabat ini, biasanya kita harus siap dengan "belaian" alam tersebut.
Dari 2 kali terakhir banjir besar Jakarta, rasanya kita sudah bisa memberi sedikit yang kita punya untuk membantu sesama hidup.
Selamat Datang Para Petualang dalam tantangan dan kebesaran alam ini.
Selamat Datang Para Petualang di Halaman Blog ini.
Semoga Blog ini bisa bermanfaat bagi kita semua, khususnya para petualang sejati.
Salam
Bababewok
Langganan:
Komentar (Atom)